Mendukung Gubernur Muslim, 150 Warga Kalbar "Menyerbu" Jakarta

Islamedia - Ustadz Bachtiar Nasir menyebut mereka "Rombongan Ciamis versi Baru". Ya, sebab rombongan yang berjumlah sekitar 150 orang ini rela datang jauh-jauh dari berbagai kota di Kalimantan Barat, meninggalkan semua aktivitas di daerah asal, bertekad untuk tinggal di Jakarta hingga 19 April 2017 nanti.

Mereka berkorban waktu, tenaga, uang jutaan rupiah, secara sukarela, tak ada yang membayar karena semua biaya ditanggung sendiri. Mereka bahkan rela tinggal di rumah besar yang kondisinya lebih mirip kamp pengungsian.

Mereka bahkan pernah diusir oleh warga karena dikira teroris. Mereka juga pernah luntang lantung di Jakarta, tidak berhasil menemukan tempat menginap, walau akhirnya ada warga Jakarta di daerah Condet Jakarta Timur yang berbaik hati menyediakan tempat tinggal untuk mereka.

Ya, cerita di atas saya DENGAR LANGSUNG ketika empat orang perwakilan Gerakan Masyarakat Kalbar untuk Jakarta (GMKUJ) berkunjung ke kantor Jonru Media Center, dan kami pun bertemu langsung, berbincang akrab dan silaturahmi, tanggal 10 Maret 2017 lalu.

Mereka bukan pendukung paslon tertentu. "Kami mendukung pemimpin muslim. Jika misalnya paslon putaran kedua ini adalah Agus Silvy, maka kami akan mendukung mereka. Sekarang kami mendukung Anies Sandi, karena alternatif calon gubernur muslim hanya mereka," ujar pak Farid Ismed, yang menjadi juru bicara pada pertemuan tersebut.

Selama di Jakarta, saudara-saudara kita dari GMKUJ ini sudah bersilaturahmi dengan sejumlah tokoh muslim, termasuk Habib Rizieq, ustadz Arifin Ilham, dan ustadz Bachtiar Nasir. Mereka juga sudah bertemu langsung dengan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno untuk memberikan dukungan moril bagi perjuangan untuk memenangkan gubernur muslim di Jakarta.

"Kami berprinsip bahwa Ahok Djarot bukan musuh kita. Mereka saudara kita sesama bangsa. Yang menjadi musuh kita adalah syetan yang ada di dalam diri kita, yang menggoda kita untuk tidak patuh pada ajaran agama tentang haramnya memilih pemimpin kafir," ujar pak Farid Ismed.

Ya, saya sangat terharu mendengar penuturan mereka, tentang suka duka mereka dalam berjuang agar bisa sampai dan bertahan hidup di Jakarta. Padahal banyak di antara mereka yang di daerah asalnya merupakan pengusaha yang terbiasa hidup enak.

Semua kenikmatan dunia di daerah asal, dengan ikhlas mereka tinggalkan, demi untuk ikut berjuang, mendukung pemimpin muslim di Jakarta.

Bahkan yang unik, ada salah seorang peserta bernama Dani, yang masih mahasiswa dan baru menikah selama tiga bulan. Dia rela meninggalkan istrinya demi untuk berjihad di Jakarta. Allahu Akbar!!!

Saya sangat terharu oleh keberadaan dan kehadiran saudara-saudara kita dari Kalbar ini. Jika mereka saja penuh semangat seperti itu, padahal mereka TIDAK PUNYA HAK SUARA pada Pikada DKI, tentu kita yang di Jakarta harus jauh lebih bersemangat.

Dikutip dari Page JONRU, sabtu 11 Maret 2017

[islamedia]